SURABAYA, FN – Penyelenggaraan IIMS Road Challenge 2026 yang digelar Indonesia International Motor Show (IIMS) bersama Dyandra Promosindo di Grand City Surabaya memunculkan perbedaan pandangan di internal Ikatan Motor Indonesia (IMI) Kota Surabaya. Di satu sisi, Ketua IMI Surabaya, Samsurin, melontarkan kecaman keras terhadap penyelenggara. Di sisi lain, Bendahara Umum IMI Surabaya, Yusuf Ibnu, justru memberikan dukungan terhadap ajang slalom yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan tersebut.
Samsurin menilai penyelenggaraan kegiatan otomotif yang memiliki regulasi resmi, seperti road challenge dan slalom, seharusnya melibatkan serta berkoordinasi dengan IMI sebagai induk organisasi kendaraan bermotor. Menurutnya, penyelenggara telah mengabaikan peran organisasi yang selama ini melakukan pembinaan terhadap komunitas dan olahraga otomotif di Kota Surabaya.
Ia juga menyoroti pelaksanaan kegiatan di luar Sirkuit Bung Tomo yang selama ini menjadi pusat kegiatan otomotif resmi di Surabaya. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi mengganggu ekosistem pembinaan otomotif yang telah dibangun bersama sekaligus mengurangi optimalisasi fasilitas yang telah disediakan pemerintah.
Sebagai bentuk keberatan, IMI Surabaya telah menyampaikan surat kepada pihak terkait dan meminta IMI Jawa Timur melakukan evaluasi terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut. Bahkan, apabila ditemukan adanya pelanggaran terhadap Pedoman Nasional Organisasi Kendaraan Bermotor, Samsurin meminta agar dilakukan tindakan tegas.
"IMI Kota Surabaya mengecam IIMS dan Dyandra Promosindo karena dinilai tidak beretika dalam menjalankan kegiatan otomotif di Surabaya," tegas Samsurin.
Berbeda dengan sikap ketuanya, Bendahara Umum IMI Kota Surabaya, Yusuf Ibnu, melihat ajang slalom dalam Indonesia Motor Show 2026 sebagai kegiatan positif yang dapat menjadi sarana pembinaan dan pengembangan bakat generasi muda di bidang otomotif.
Menurut Yusuf, olahraga otomotif seperti slalom tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga mampu membentuk karakter melalui disiplin, konsentrasi, ketelitian, serta kemampuan mengambil keputusan secara cepat dan tepat.
"Saya mendukung penuh kegiatan slalom ini karena memberikan ruang bagi anak-anak muda untuk belajar disiplin, fokus, serta mengembangkan kemampuan mengemudi. Event seperti ini juga bisa menjadi sarana lahirnya pembalap-pembalap berbakat dari Surabaya," ujar Yusuf.
Di tengah polemik yang berkembang, Yusuf juga mengajak seluruh pihak untuk mengedepankan komunikasi, etika, dan semangat kebersamaan dalam menyikapi perbedaan pandangan.
Menurutnya, tidak bijak memberikan penilaian negatif terhadap seseorang atau suatu pihak tanpa terlebih dahulu melakukan komunikasi dan memahami persoalan secara menyeluruh.
"Dalam kehidupan berorganisasi, kita harus bijak dalam memberikan penilaian. Jangan mudah menuding seseorang atau pihak tertentu tidak beretika apabila belum pernah bertemu, berdialog, atau memahami duduk persoalannya secara lengkap. Penilaian yang terburu-buru tentu kurang elok dan tidak mencerminkan semangat kebersamaan," katanya.
Yusuf berharap perbedaan pandangan yang muncul dapat menjadi ruang evaluasi bersama untuk memperkuat komunikasi antar pemangku kepentingan di dunia otomotif Surabaya. Menurutnya, tujuan utama yang harus dikedepankan adalah kemajuan olahraga otomotif, pembinaan atlet muda, serta terciptanya iklim yang sehat bagi komunitas dan pelaku otomotif di Kota Pahlawan.
Sementara itu, ajang slalom yang berlangsung di kawasan Grand City Surabaya mendapat antusiasme tinggi dari pengunjung. Sejumlah pembalap nasional tampil menunjukkan kemampuan terbaiknya dalam menaklukkan lintasan teknis yang disiapkan panitia. Kehadiran mereka sekaligus menjadi sarana edukasi bagi masyarakat untuk mengenal olahraga otomotif yang kompetitif, aman, dan berprestasi.
Dengan dukungan berbagai pihak, kegiatan tersebut diharapkan mampu menjadi wadah pembinaan atlet muda sekaligus mendorong perkembangan dunia otomotif Surabaya melalui semangat kolaborasi, profesionalisme, dan saling menghormati. (puput)
Editor : Redaksi